RSS

Menyemai jati diri

18 Feb

Ada tekad untuk selalu menjadi yang terbaik, ada semangat dan asa yang selalu berkobar, ada perhatian yang tulus dan kekuatan yang senantiasa memotivasi. Semua menjadi Ruh dan darah segar bagi Perbaikan diri ini

Memang sulit untuk memahami apalagi mencintai sesuatu yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Layaknya orang yang tengah bercinta, tak kenal maka tak saying, tak saying maka tak cinta. Kira-kira pemahaman itu yang pernah dirasakan masa awal masuk ke dunia marketing, lebih-lebih harus focus dan dikejar oleh target. Betapa jengkel bila harus terus dikejar waktu dead line target, waktu 3 bulan sangat singkat untuk sebuah target penjualan dengan jumlah tertentu, kalo lagi sulit. Namun seiring waktu telah mengubah segalanya. Pekerjaan itu justru menjadi pekerjaan rutin yang kian menyenangkan. Artinya, setelah kenal lalu cinta …dan rasa sayang itu terus..dan terus ada. Tetapi entahlah, sampai kapan rasa itu ada….

Masih kental dalam ingatan ketika wisuda sarjana, tahun 1998, setelah 4 tahun menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Hmmm…lega rasanya, bisa selesai study, dan menyenangkan orangtua. Walaupun selama kuliah dapet beasiswa Mahasiswa Berprestasi dan aktif organisasi dari ICMI, tetapi selesai tepat waktu tetap menjadi kebanggaan tersendiri. Gak molorrr….

Waktu dapet tawaran untuk menjadi konsultan keuangan pada sebuah LSM yang dipercaya oleh IMF dalam rangka perbaikan ekonomi bangsa ini, hmmm… senengnya minta ampun, jarang-jarang kan, dapet job disaat baru selesai menyelesaikan study, apalagi salary yang dijanjikan lumayan, belum pernah dapet sebelumnya saat bekerja nyambi kuliah.

Jadi konsultan keuangan di kabupaten Bekasi, tepatnya kecamatan Kedung Waringin, punya pengalaman tersendiri yang cukup menarik, selama +- 10 bulan pelajaran bagaimana menghadapi dunia nyata, yang sangat jauh berbeda dengan dunia sekolah, bangku kuliah, saat KKN sekalipun. Tipikal individu terasa lebih nyata dan semakin sulit dipahami walaupun pernah dipelajari dalam mata kuliah psikologi social. Hmmm….dasar baru lulus, segalanya dihubungkan dengan ilmu dari bangku kuliah, padahal jelas-jelas berbeda.
Tipikal manusia bisa berubah-rubah ketika berhadapan dengan yang namanya duit, sehingga ketika berurusan dengan kucuran dana dari Bank Dunia, yang dihadapi justru perbedaan itu. Data penerima bantuan semakin membengkak dari data sebelumnya. Memang salah satunya karena ada kecenderungan masyarakat akan gengsi tidak mau disebut kurang mampu, tetapi setelah mengetahui akan ada penyaluran dana untuk modal usaha, maka rame-rame untuk mengakui sebagai keluarga yang kurang mampu. Tetapi mungkin bisa jadi ada berbagai factor yang lain, misalnya keakuratan pendataan awal atau mungkin juga adanya beberapa kelompok masyarakat yang fiktif. “Wallahu a’lam”

Masa kontrakpun berlalu, ingin rasanya kembali mengabdi kepada kedua orangtua, lagipula ingin istrahat dari rutinitas cukup menguras kemampuan “sang sarjana baru” kendala dan tantangan yang berhadapan langsung dengan penguasa wilayah dan masyarakat, serta harus berpegang pada peraturan serta idealisme yang tinggi. Hmmm….serius amat bahasanya. Intinya sih pulang kampung karena kangen sama orangtua, yang bikin Pede, ya tabungan dari hasil kerja itu. Lumayan buat oleh-oleh.

Wah…enaknya kalau bisa nabung ya….

 
Leave a comment

Posted by on 02,2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: