RSS

Jalan ke rumah bu Mur

10 Jan

Dipengajian Sunda Kelapa setiap minggu pagi, aku ketemu ibu yang sedang duduk bersam seorang pengemis orang tua, kudekati lalu kami kenalan, sebelumnya aku pernah melihat ibu ini waktu pengajian di mesjid Al-Hakim menteng setiap sabtu siang. cerita Bu Mur dia hidup sendirian, karena suaminya sudah meninggal dua tahun yang lalu, tahun 2006, dan anaknya satu-satunya memang saat usia 6 tahun. saudaranya cuma satu dan sudah meninggal pula dan tidak meninggalkan keturunan. Bu Mur benar-benar sendiri. tinggal dirumah kawasan kumuh pinggir kali ciliwung daerah bangker tanah abang. menuju ke rumah Bu Mur jauh dari  jalan yang lebar beraspal , tapi hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki masuk gang yang licin, itam, becek, bau. dan hanya bisa dilewati dengan ukuran badan satu orang saja. depan rumahnya ada sedikit semacam teras tanah sebagai tempat kucing makan. rumahnya berupa kamar dengan ukuran sekitar satu setengah kali dua meter. hanya dilengkapi sebuah tempat tidur ukuran badan, meja, dan kamar mandi. tidak ada kursi, apalagi kipas angin, padahal panasnya minta ampun. ini jakarta loh. apalagi tanah abang.

Kata Bu Mur, bila mau bantu dia, gak usah ngasih pakaian, barang atau apapun. kasih duit aja. “buat modal neng!” katanya.  

bila hujan tiba siap-siap ngungsi dan menyelamatkan diri, jangan ngarap pertolongan orang lain, karena memang tinggal dijakarta ini, semua serba cuek. tapi Bu Mur ternyata tidak merasa sendiri. tetangga yang senasib, jadi teman. setiap hari yang jadi teman tidur, ngobrol adalah lola.loli,inul,abel,noni, dan si manis. enam ekor kucing ini sudah menjadi sahabat setia bagi Bu Mur. setiap hari diberi makan 3 kali dengan tujuh ribu perhari. Bu Mur jual donat, air minum di Jacc tanah abang, setiap hari ia menjajakan dagangannya kepada para pedagang di Jacc, melalui agen sebuah minuman disitu, setiap botol dengan keuntungan lima ratus perak.  Bu Mur ingin punya modal sendiri, dia butuh 100 ribu untk bisa jualan sendiri agar tidak ambil lagi dari agen, tapi ambil dari swalayan hypermart dan menjualnya langsung. tidak banyak yang dibutuhkannya. Tapi jumlah itu sangat berarti baginya.

Terkadang bila keuntungannya sehari mencapai 50 ribu, Bu Mur membagikan dagangan donatnya kepada orang yang merasa perlu dibantu. Bu Mur gak mau menikmati sendirian. menurutnya 50 ribu sudah lebih dari cukup untuk makan bersama 6 ekor kucing, ke pengajian setiap sabtu dan minggu,buat sedekah pengemis dan buat infaq. Untuk hari esok, Bu Mur mencari dengan bekerja lagi. dia benar-benar menikmati hidup ini, karena selamanya bersama Allah SWT. segalanya dipasrahkan kepada-Nya. tidak masalah yang perlu diratapi dalam hidup ini, semua berjalan apa adanya sesuai aturanNya, rezeki, maut, sesuai kehendakNya.

Di mesjid suka banyak yang memberi sedekah untuknya, dan dia sedekahkan lagi pada yang lainnya. bahkan sudah menjadi sahabatnya, menyiapkan tempat duduk untuk para sahabatnya. Bu Mur ternyata tidak sendirian. dia selalu mengambil banyak pelajaran dari setiap ceramah maupun tausiah, semua untuk bekal hidup dunia akhirat.

Terima kasih Bu Mur, aku dapat banyak hikmah dari hidupmu.

 
Leave a comment

Posted by on 01,2008 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: